The Lovers – René Magritte

2 09 2007

lovers.jpg

rene_magritte_the_lovers.jpg

René Magritte merupakan seniman surrealis yang berasal dari Belgia. Salah satu karya terbesarnya adalah The Lovers. Lukisan yang menggambarkan dua pasangan yang sedang bermesraan ini menimbulkan impresi yang kuat karena penggunaan kain penutup kepala pada keduanya. Banyak interpretasi yang bermunculan, diantaranya adalah lukisan itu menggambarkan suasana love is blind, atau malah ada pula yang berpendapat kalau lukisan itu menyatakan cinta pada zaman modern yang cenderung terburu- buru dalam tindakannya, sehingga tidak mementingkan lagi isinya.

Harus diakui, lukisan ini memberikan pengaruh yang kuat pada seni zaman modern ini. Beberapa artist menggunakan The Lovers sebagai acuan atau sumber inspirasi untuk karya- karyanya. Diantaranya adalah film Pig yang disutradarai oleh Nico B. Dalam satu adegannya, ada dua orang yang memakai tutup kepala dan terikat satu sama lain.

pig6.jpg

Atau desain milik Barny Bewick untuk cover album Funeral For A Friend yang berjudul Casually Dressed & Deep in Conversation yang menggambarkan pasangan dengan atribut yang sama, tidak tanggung – tanggung hampir seluruh video klip FFAF ini memiliki konsep yang serupa.

funeral_for_a_friend_-_casually_dressed_and_deep_in_conversation.jpg

Desainer terkenal, Storm Thorgerson, juga melakukan hal yang serupa dengan Bewick untuk cover album The Mars Volta yang berjudul Frances the Mute. Hanya saja ia tidak terfokus pada pasangan, dan mengganti tutup kepala berwarna putih dengan warna merah.

volta.jpg





Ley Lines (Takashi Miike)

2 09 2007

ley_lines_affiche.jpg

(*****)


Ley Lines adalah bagian terakhir dari film Trilogy milik Miike yang berjudul Black Society Trilogy. Berbeda dengan kedua film yang pertama, di film ini, Miike menampilkan unsur2 yang artistik dan penggunaan simbolisasi warna di sepanjang filmnya.

Ryuichi, seorang anak muda keturunan China, tidak mendapatkan ijin yang legal untuk meninggalkan Jepang. Merasa frustrasi dengan kehidupannya di situ,Bersama adiknya, Shunrei yang pendiam dan temannya yang agak gila, Chong, merekea memutuskan untuk bersama – sama mencari cara2 ilegal untuk segera keluar dari Jepang.
Tujuan mereka : Brazil.


Ley Lines bisa dibilang salah satu film Miike yang paling menarik dan indah. FIlm ini membuktikan bahwa Miike bukan sekedar sutradara yang mengandalkan adegan kekerasa yang berlebihan saja.
Jika Audition bergantung pada endingnya, dan Ichi The Killer menjual adegan2 sadisnya, maka Ley Lines tidak sama sekali bergantung pada satu adegan saja karena setiap adegannya memiliki kekuatan masing – masing.


Penggunaan simbolisasi warnanya di sepanjang adegan juga menarik dalam menggambarkan keadaan emosi dan suasana dalam film ini. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan warna biru dan pink sebagai simbol dari laki – laki dan perempuan, kebanyakan berupa warna payung.


Tema cerita yang cukup serius dan depresi ini dalam film ini berusaha untuk diimbangi dengan penggunaan unsur2 black comedy yang acak dan karakter absurd yang ditemui sepanjang film ini.Inilah salah satu kelebihan Miike. Dasar cerita yang biasa saja bisa berubah drastis menjadi menarik kalau ditangani olehnya.
Di tangan Miike, Ley Lines bisa menjadi salah satu puisi visual yang tragis dan artistik scr teknik tanpa harus terkesan berlebihan.