(*****)

Ley Lines adalah bagian terakhir dari film Trilogy milik Miike yang berjudul Black Society Trilogy. Berbeda dengan kedua film yang pertama, di film ini, Miike menampilkan unsur2 yang artistik dan penggunaan simbolisasi warna di sepanjang filmnya.

Ryuichi, seorang anak muda keturunan China, tidak mendapatkan ijin yang legal untuk meninggalkan Jepang. Merasa frustrasi dengan kehidupannya di situ,Bersama adiknya, Shunrei yang pendiam dan temannya yang agak gila, Chong, merekea memutuskan untuk bersama – sama mencari cara2 ilegal untuk segera keluar dari Jepang.
Tujuan mereka : Brazil.

Ley Lines bisa dibilang salah satu film Miike yang paling menarik dan indah. FIlm ini membuktikan bahwa Miike bukan sekedar sutradara yang mengandalkan adegan kekerasa yang berlebihan saja.
Jika Audition bergantung pada endingnya, dan Ichi The Killer menjual adegan2 sadisnya, maka Ley Lines tidak sama sekali bergantung pada satu adegan saja karena setiap adegannya memiliki kekuatan masing – masing.

Penggunaan simbolisasi warnanya di sepanjang adegan juga menarik dalam menggambarkan keadaan emosi dan suasana dalam film ini. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah penggunaan warna biru dan pink sebagai simbol dari laki – laki dan perempuan, kebanyakan berupa warna payung.

Tema cerita yang cukup serius dan depresi ini dalam film ini berusaha untuk diimbangi dengan penggunaan unsur2 black comedy yang acak dan karakter absurd yang ditemui sepanjang film ini.Inilah salah satu kelebihan Miike. Dasar cerita yang biasa saja bisa berubah drastis menjadi menarik kalau ditangani olehnya.
Di tangan Miike, Ley Lines bisa menjadi salah satu puisi visual yang tragis dan artistik scr teknik tanpa harus terkesan berlebihan.

